For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

News Detail

BACK
Published on Jun 28, 2019

HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS

*SEKILAS TENTANG HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS*

Hari Jumat ketiga sesudah Pentakosta (hari Jumat pertama setelah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus), Gereja merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Untuk tahun 2019 ini, Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus jatuh pada hari ini, tanggal 28 Juni 2019. Dalam perayaan liturgi, tingkat hari raya (sollemnitas) adalah tingkat tertinggi dalam liturgi Gereja Roma. Dengan kata lain, penghormatan pada Hati Yesus yang Mahakudus mendapat tempat istimewa dalam tradisi Gereja Katolik. Mau dikenangkan dalam pesta ini, Hati Yesus yang Mahakudus yang bisa menunjuk pada hati Yesus yang terluka karena tertusuk tombak, tetapi bisa juga menunjuk kepada kasih Yesus kepada umat manusia.

Sejak kapan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus dirayakan? Pada tahun 1675, Yesus menampakkan diri kepada Santa Margareta Maria Alacoque dan menunjukkan Hati-Nya yang penuh belaskasihan itu berdarah. Yesus menyatakan kerinduan hati-Nya akan kasih umat-Nya dan menunjukkan Hati-Nya yang Mahakudus yang penuh cinta dan belaskasihan serta penyelamatan. Karena itu, Tuhan menetapkan hari Jumat pertama setelah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus sebagai hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus dan meminta Margereta untuk menghormati Hati-Nya Yang Mahakudus dengan menerima komuni kudus setiap Jumat Pertama dalam bulan selama sembilan bulan berturut-turut.

Di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, kata ”hati” disebutkan lebih dari 1100 kali. Kata "hati" dipakai sekurang-kurangnya dalam dua arti, yaitu arti harafiah : organ tubuh manusia, dan arti kiasan (Yunani: kardia, Ibrani: leb) : menunjuk pada pribadi manusia, pusat emosi, perasaan, kehendak, tempat akal budi (Sir 17:6), dsb. Hati inilah tempat pertemuan manusia dengan Allah. Meski pada umumnya kata "hati" ini merujuk pada hati manusia, tetapi ada juga rujukan ke hati Allah. Dalam Yer 31:31-34; 32:37-41 dan Yeh 11:17-20; 36:24-27, Allah menjanjikan suatu ikatan-kasih yang baru, yang akan ditandai oleh hati baru dan semangat baru. Janji Allah itu terpenuhi dalam diri Yesus sebagai pengantara ikatan-kasih atau Perjanjian Baru.

Jadi, hati adalah hidup batin seseorang, atau simbol segala kebaikan yang dimiliki seseorang. Memang seringkali rujukan diarahkan kepada hati Yesus yang ditikam dan mengeluarkan darah dan air (Yoh 19:34), tetapi hati di sini mencakup seluruh hidup batin Yesus yang mendorong tindakan-tindakan-Nya. Itulah hati yang tergerak ketika melihat para pengikut-Nya bagaikan kawanan tanpa gembala. “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala“ (Mat 9:36). Itulah hati Yesus yang iba ketika Ia melihat orang lumpuh, buta, tuli, kusta, dan orang banyak yang mengikuti Dia capai dan lapar. “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini...” (Mrk 8:2). Hati Yesus mencerminkan kebaikan yang dimiliki-Nya, misalnya kelemahlembutan, ketaatan, keberanian, sembah-sujud, dan penyerahan diri kepada Bapa. Hati Yesus itulah yang kita sembah dan hormati. Yesus juga mengundang kita untuk masuk ke dalam hati-Nya, ikut merasakan dan mengalami hati Yesus itu. Kita juga diundang untuk mewartakan hati itu juga. Meskipun kita lemah, kita diundang untuk ikut serta menikmati kekayaan hati-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu...” (Mat 11:28). Maka, penghormatan terhadap Hati Kudus Yesus dimaksudkan sebagai silih untuk dosa-dosa kita terutama karena dosa tidak tahu terima kasih di hadapan kasih Yesus yang tiada habis-habisnya sebagaimana terungkap dalam sabda-Nya, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:28-29). Ini adalah salah satu teks Kitab Suci yang paling indah dan menyentuh.

Relasi kasih adalah relasi timbal balik. Orang tidak akan bisa membalas kasih, kalau ia sendiri tidak pernah merasakan kasih itu. Pertanyaannya adalah apakah kita memang pernah merasakan kasih Yesus itu?

Credit to its author. Photo credit: wikipedia.

BACK